Ego
Assalamualaikum
Kita, manusia, mengemban tugas besar dariNya untuk menjaga bumi dengan kemampuan yang lebih dibanding makhluk lain nya, akal.
Kita mampu untuk mengerti banyak hal, merupakan modal dariNya untuk kemudian paham bahwa di dunia ini kita hanyalah sebagian kecil dan karenanya lah seharusnya kita sadar dan bertekad kuat untuk menjadi hamba-Nya yang obedient, atau taat.
Menjadi hamba yang taat, penurut, adalah hal yang tidak juga bisa lantas dibilang mudah. Karena kita pun disertai ‘ego’ yang menjadi cobaan bagi beberapa dari kita yang mungkin dibesarkan secara salah, atau kurang tepat, oleh orang tua kita. Tidak bermaksud menyalahkan, hanya berusaha menemukan jawaban. Ketika dari diri sendiri, kita tidak bisa mengontrol atau menguasai ego kita, maka kita akan sangat mungkin meneruskan sifat buruk tersebut kepada suami dan anak-anak kita, kelak. Dan dari sanalah bisa berkembang masalah yang lebih sistemik lagi.
Kita juga diembani tugas untuk menjadi pemimpin di bumi ini, if I’m not mistaken (saya lupa exact diksi nya). Namun itu bukanlah excuse bagi kita untuk memperbesar ego. Menjadi pemimpin pastilah diiringi dengan kekuasaan, di mana dari sana belaian pada ego semakin lembut dan nyaman. Astaghfirullah. Jangan sampai ego terbuai, dan tugas kita adalah mencegahnya. Menjadi pemimpin adalah cobaan, namun juga karunia. Bagaimana kita dapat memaknai nya, tergantung kuatnya iman.
Bagaimana kita dapat menguasai nya? Mungkin, dari pengamatan saya, ada dua hal. Pertama, kita harus menerima dahulu kenyataan bahwa kita mempunyai ego dan kita harus selalu ingat bahwa kita hidup di dunia untuk menghamba kepada Allah subhanahuwata’ala. Kedua, belajar untuk taat, untuk ‘nurut’ dengan ikhlas dan sepenuh hati. Untuk yang kedua, ada dua cara untuk membuat seseorang ‘nurut’ yaitu dengan cinta atau takut. Sekarang bagaimana kita akan menghamba kepadaNya, itu adalah suatu kesinambungan yang ditemukan oleh pribadi masing-masing. Anak kecil di TPA mungkin memang akan dididik untuk takut, namun di umur yang mulai matang ini saya rasa kita harus mulai bisa belajar tentang cinta.
Sebagaimana benang yang ditenun helai demi helai dengan tekun oleh penenun, seperti itu lah kita harus meniti proses agar cinta kepada Allah subhanawata’ala semakin dalam dan meresap. Tiada yang instan di dunia ini, dan langkah awal dari semua proses adalah memulai. Setelah langkah awal, barulah kita masuki fase penemuan diri yang harapan nya akan berakhir pada bulat tekad istiqomah.
“Kalau ingin dan ego selalu kita turuti, apakah bukan berarti kita mengabaikan Tuhan, yang mana kepadaNya lah seharusnya kita taat?”
Wassalamualaikum
-Referensi :
http://www.sufilive.com/Aug_05_2011_Sohba_Discourse-3686.html
Semoga tidak salah mengerti, dan semoga Allah subhanahuwata’ala mengampuni kesalahan-kesalahan yang mungkin muncul. Astaghfirullah.
o:)







